 | Category: | Movies | | Genre: | Romance |
Vega, mahasiswi yang selain bekerja sebagai penyiar radio dengan nama samaran Vey, ia juga bekerja sebagai copywriter. Sebagai penyiar radio ia memakai nama Vey, mempunyai acara khusus yang membahas masalah relationship berjudul “From Bandung With Love”. Cerita dimulai saat Vega memutuskan untuk membahas masalah perselingkuhan dan kesetiaan dalam siaranya minggu mendatang. Dia mulai dengan teori, bahwa 10 dari 11 laki-laki tidak setia. Teori ini diperkuat pula oleh Wulan, sahabat Vega yang baru saja mendapati pacarnya selingkuh Usaha Vega pun dibawa ke kantor advertising yang mempekerjakan dia sebagai copywriter. Dia mengamati, lalu memilih Ryan, creative director yang terkenal playboy. Vega memanfaatkan waktu seminggu menjelang siaran untuk mendekati Ryan, untuk mencari tahu dari sisi lelaki yang tidak setia. Tapi, apapun dapat terjadi dalam 6 hari. Vega jatuh cinta dengan Ryan, karena Ryan memang mengetahui benar, how to treat a lady, sebuah karakter yang berbeda dengan Dion, pacar Vega yang sebenarnya. Hingga di satu titik Vega menyadari, bahwa dialah yang tidak setia. Tidak setia terhadap tujuan, terhadap Dion, Wulan dan dirinya sendiri. Akhirnya, siapakah yang Vega pilih? Ryan yang tahu benar memperlakukan seorang wanita atau Dion yang sebaliknya? Taken from : http://ruangfilm.com/?q=katalog/from_bandung_with_loveAda multiply filmnya juga : http://frombandungwithlove.multiply.com  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Alvin and the Chipmunks adalah trio tupai yang pintar dan berbakat, terdiri dari Alvin yang nakal namun pintar, Simon yang sifatnya lebih dewasa, dan Theodore tupai gendut yang manja dan plin-plan. Mereka pernah terkenal di era 1980-an dari serial kartun televisi. Kini, mereka muncul dalam versi layar lebar sebagai bentuk penghormatan dari seorang anak atas karya sang ayah, Ross Bagdasarian Sr., yang telah menciptakan karakter tupai-tupai lucu tersebut. Film yang disutradarai oleh Tim Hill (GARFIELD: A TAIL OF TWO KITTIES) ini menceritakan kisah Alvin, Simon, dan Theodore yang kehilangan rumah mereka, sebuah pohon cemara, yang ditebang untuk hiasan Natal. Sejak saat itu, kehidupan mereka pun berubah. Pohon yang terpajang di sebuah lobi gedung membawa ketiganya masuk dalam hiruk pikuk kehidupan manusia di Los Angeles. Akhirnya mereka 'terdampar' bersama Dave Seville (Jason Lee). Awalnya Dave yang hidup sendiri, tidak menyukai kehadiran ketiga tupai usil pandai bicara yang mengacaukan dapurnya. Ditambah pula, Dave sedang kesal karena lagu-lagunya ditolak mentah-mentah oleh temannya, Ian Hawk (David Cross), pemilik Jett Records. Namun di tengah keputusasaan, Dave menemukan harapan baru ketika mengetahui tiga tupai itu ternyata pandai menyanyi. Terinspirasi oleh mereka, Dave membuat sebuah lagu bagi ketiga tupai tersebut. Ia membuat kesepakatan apabila tiga chipmunk tersebut mau menyanyikan lagunya, maka mereka diperbolehkan tinggal di rumahnya dengan catatan mengikuti peraturannya. Dengan sebuah perjuangan, akhirnya lagu itu diterima Jett Records dengan para penyanyi baru, Alvin dan kedua temannya. Dengan kesabarannya, Dave akhirnya berhasil mengantar trio chipmunk meraih sukses sebagai penyanyi. Hal yang tidak mudah dilalui Dave, karena tupai-tupai itu sangat bandel dengan tingkat keisengan tinggi. Tingkah konyol mereka mengganggu semua segi kehidupan Dave, termasuk kisah cintanya dengan wartawati Claire (Cameron Richardson). Hubungan Dave dan ketiganya pun merenggang seiring kesuksesan trio chipmunk. Ian yang tamak berusaha mengeruk keuntungan pribadi situasi tersebut. Ian pun membujuk dan membohongi Alvin dan kedua temannya sehingga meninggalkan Dave. Setelah itu Ian memanfaatkan ketiganya untuk kemakmuran dirinya. Menyadari hal itu, Dave pun berupaya menyelamatkan keluarga kecilnya itu dari kekuasaan Ian. Berhasilkah Dave? Film ini bukanlah film Hollywood pertama yang menggabungkan teknik animasi 3 dimensi dengan aktor dan aktris asli. Sang sutradara pun bukan orang asing di bidang pembuatan film seperti ini, karena sebelumnya telah membuat GARFIELD: A TAIL OF TWO KITTIES. Tak heran secara umum film ini mirip Garfield. Meski demikian, hasil CGI (computer generated imagery) dalam film ini terasa lebih halus dibanding Garfield. Ketiga tupai terasa menyatu dengan aktor lainnya. Sayang dominasi Alvin, Simon, dan Theodore begitu kental hingga menjadi roh film ini, sedangkan aktor-aktor lain tak mampu menunjukkan karakter khas mereka sehingga hanya menjadi pemanis. Karena film ini bercerita tentang tupai-tupai yang pandai bernyanyi, tentu saja sepanjang film bertaburan dengan rangkaian lagu, baik versi original soundtrack film ini maupun lagu milik orang lain. Tak hanya itu, aksi ketiga tupai ini, termasuk kenakalan dan keisengan, membuat mereka benar-benar menggemaskan dan memicu tawa. Yang tak kalah menarik adalah dialog-dialog yang ringan dan humor yang diselipkan mampu menambah keceriaan. Film ini pun mampu memberikan pesan moral secara jelas, bahwa dalam sebuah keluarga diperlukan saling pengertian dan kesabaran agar menjadi keluarga utuh yang bahagia. Taken from : http://www.kapanlagi.com/a/0000004746.html  | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Mr. Magorium (Dustin Hoffman) adalah pemilik sebuah toko mainan bernama Wonder Emporium. Namun toko mainan Mr. Margorium bukanlah toko mainan biasa. Toko ini sangat istimewa karena sudah berdiri sejak beratus tahun lalu dan mampu membawa anak-anak ke dunia ajaib yang hanya bisa didapatkan mereka di toko Wonder Emporium. Molly Mahoney (Natalie Portman), Eric Applebaum (Zach Mills) adalah dua orang karyawan kesayangan Mr. Magorium. Mereka berdua adalah orang-orang yang percaya pada keajaiban dan mampu melihat keistimewaan toko Mr. Magorium. Keanehan mulai timbul saat Mr. Magorium mempekerjakan Henry Weston (Jason Bateman), seorang ahli hukum yang sangat kaku dan realistis. Molly adalah seorang manajer yang baik namun kurang percaya diri. Eric yang masih berusia 9 tahun adalah anak yang percaya pada keajaiban dan seperti hidup di dunianya sendiri. Ibu Eric menginginkan Eric mempunyai kawan. Eric pun mencoba berkawan dengan Henry. Sejak kedatangan Henry, toko Wonder Emporium memperlihatkan keanehan. Semua yang berwarna-warni berubah menjadi kelabu. Ternyata hal itu berhubungan dengan alasan Mr. Magorium mempekerjakan Henry. Mr. Magorium yang sudah berusia 200 tahun lebih ternyata tengah menyiapkan Molly sebagai pewaris toko Wonder Emporium. Molly pun mengalami dilemma yang sebagian karena dirinya merasa tidak pantas. Untungnya Henry dan Eric bisa meyakinkan dirinya. The Notes : Pengalaman hidup seseorang memang bisa menjadi sebuah inspirasi atas ide cerita. Sutradara muda Zach Helm juga demikian. Ide tentang toko mainan merupakan bagian dari pengalaman pribadinya saat masih bekerja di toko mainan. Film Mr. Magorium’s Wonder Emporium merupakan debut filmnya sebagai sutradara. Sebelumnya, Zach adalah penulis skrip film dengan genre komedi. Stranger than Fiction adalah salah satu karyanya. Menggaet actor-aktor papan atas Hollywood untuk terlibat dalam film ini tentu tak mudah. Aktor Dustin Hoffman dan Natalie Portman berhasil dibujuknya untuk membintangi film fantasi ini. Aktor senior Dustin Hoffman hampir tidak pernah gagal dalam memainkan karakternya. Begitu juga dalam perannya sebagai Mr. Magorium. Dustin bisa membawa penonton dalam suasana keharuan lewat karakter Mr. Magorium, tanpa harus berakting sedih. Dengan wajah jenaka, Dustin justru bisa memperlihatkan beban berat yang muncul atas rencana ‘kepergiannya’. Sayangnya, Jason Bateman nampaknya tidak bisa melepaskan diri dan membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekedar actor layar kaca. Natalie Portman yang tergolong bintang eksklusif di kalangan Hollywood beruntung bisa bermain bareng dengan Dustin yang memang sudah punya jam terbang sangat tinggi dalam memainkan berbagai karakter. Meski acting Natalie di film ini tergolong standar karena memang tuntutan ceruta, namun duet aktingnya dengan Dustin menjadi perpaduan seru antara bintang junior dan senior yang tentu saja bisa mendongkrak film ini. Yang menarik, satu lagi pemeran Eric Applebaum yaitu Zach Mills juga bermain cemerlang dan menambah lagi satu generasi bintang muda masa depan Hollywood. Dengan gaya surealis, film Mr. Magorium menjadi sebuah film fantasi keluarga yang menarik buat ditonton apalagi dikemas dengan sedikit sentuhan komedi. Taken from : http://www.whatzup-online.com/node/1279  | Category: | Movies | | Genre: | Animation |
Bee Movie adalah film komedi yang mengangkat kisah gejolak jiwa lebah remaja. Film garapan sutradara Simon J. Smith dan Steve Hickner ini bercerita tentang seekor lebah bernama Barry B. Benson (Jerry Seinfeld) yang baru saja lulus dari pendidikannya. Namun Barry menolak untuk melanjutkan kariernya sebagai pembuat madu di perusahaan Honex, di New Hive City. Alih-alih bekerja, Barry ingin keluar dari sarangnya dan melihat dunia luar yang menurutnya lebih mengasyikkan daripada mengumpulkan madu. Saat berpetualang itulah, Barry bertemu pemilik toko bunga yang cantik bernama Vannessa (Renée Zellweger). Perlakuan Vannesa yang sangat baik dan bersahabat membuat Barry ingin berterima kasih secara langsung. Tentu saja ini membuat Barry melanggar aturan paling utama dalam dunia lebah yaitu berbicara dengan manusia. Pertemuan itu pula yang mengungkap alasan di balik larangan berbicara kepada manusia. Ternyata selama berabad-abad, manusia telah mencuri dan menikmati madu dari bangsanya. Dan Barry menyadari dia harus melakukan sesuatu. Dengan dukungan Vannesa, Barry melakukannya dengan cara manusia yaitu menuntut produsen madu tersebut. Tentu saja usaha Barry menghentikan eksploitasi terhadap bangsanya langsung mendapat sorotan media. Dan tak kalah pentingnya juga mendapat perhatian dari juri-juri di persidangan. Meski sempat terpojok oleh rekayasa pengacara licik Layton T. Montgomery (John Goodman), Barry akhirnya memenangkan gugatan tersebut. Pengadilan memutuskan madu tidak boleh sembarangan dikonsumsi manusia dan semua produk madu di seluruh dunia ditarik dan dikembalikan kepada lebah. Sayangnya keberhasilan Barry malah berdampak negatif bagi bunga dan manusia, begitu pun dengan usaha Vanessa. Film animasi produksi Dream Works ini membawa pesan moral yaitu bahwa Tuhan menciptakan makhluk dengan membawa perannya sendiri-sendiri. Maka manusia harus selalu berbuat baik dengan alam dan binatang. Karena putusnya sebuah mata rantai akan menggoyahkan keseimbangan kehidupan. Sayangnya ada beberapa bagian yang terlalu 'berat' bagi anak-anak, seperti kisah percintaan dan gugatan hukum. Nah, pastinya peran orang tua dalam mendampingi ketika menonton film ini adalah hal wajib. Namun secara umum, film ini cukup menghibur bagi anak-anak, dengan humor-humor ringan sesuai jiwa mereka. Take from : http://www.kapanlagi.com/a/0000004684.html  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Aktris peraih Oscar, Renee Zellweger kali ini mendapat peran utama dalam film biografi pengarang cerita bergambar anak-anak, Beatrix Potter. Film drama yang disutradari oleh Chris Noonan ini akan mengkombinasikan cerita kisah hidupnya dengan rangkaian karakter animasi dari buku ceritanya seperti Peter Rabbit. Film ini mengisahkan petualangan Beatrix Potter mulai saat cetakan buku pertamanya terbit, hubungan rahasia dengan penerbitnya, hingga ketenarannya sebagai pengarang cerita anak-anak paling sukses sepanjang waktu. Beatrix Potter hidup di London dan pada usia 30 tahun belum menikah. Tentu saja hal ini membuat jengkel kedua orang tuanya karena Beatrix menolak banyak laki-laki yang mendekatinya dan memutuskan untuk tetap hidup melajang. Parahnya lagi, Miss Potter menghabiskan waktunya dengan menggambar binatang hutan yang lucu seperti Peter Rabbit dan kawan-kawan. Tak dinyana, hobinya tersebut membuahkan hasil. Ia sukses menjual buku cerita. Hingga Miss Potter bertemu dengan Norman Warne (Ewan Mcgregor), adik laki-laki paling bungsu dari Warne bersaudara yang menerbitkan bukunya. Meski telah terkenal (dan kaya), ibu Beatrix tetap tidak suka dan masih menghujaninya dengan kritik pedas. Bahkan saat Norman melamar Beatrix, kontan saja sang ibu menolak karena karir Norman hanyalah seorang pedagang. Beatrix memutuskan membeli tanah dan rumah sendiri di daerah pinggiran yang jauh dari London dari hasil penjualan buku-bukunya. Tindakan ini juga dipicu oleh kematian Norman Warne. Saat dia akhirnya menikahi teman masa kecilnya, William Heelis, yang berpendidikan hukum, ibunya tetap tidak merestui pernikahannya. Dalam film ini Renee benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai penerima Oscar. Dalam film ini juga ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan kehidupan Potter yang sebenarnya, seperti William Heelis yang sebenarnya bukan pengawas lahan pertanian dan bukan teman masa kecil Potter, bahkan sebenarnya Potter lebih tua dari Heelis. Namun ada pesan moral yang dapat dipetik dari kisah ini, yaitu tidak selamanya orang tua benar dan mengambil keputusan terbaik demi anaknya. Kadang ada saatnya kita harus benar-benar bisa membedakan mana yang terbaik untuk hidup kita tanpa harus terlalu menghiraukan omongan orang lain. Taken from : http://www.kapanlagi.com/a/0000004678.html  | Category: | Movies | | Genre: | Romance |
Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy ini merupakan novel fenomenal dan menjadi best seller dan kisahnya menginspirasi banyak remaja muslim. Keputusan MD Pictures untuk mengangkatnya kelayar lebar dan menginterpretasikan cerita dalam novel untuk konsumsi masyarakat umum membuahkan pertanyaan besar yang akan terjawab pada 19 Desember ini, akankah memuaskan para penonton yang sudah membaca novelnya atau malah gagal menjadi sebuah film adaptasi? dan bagaimana dengan penonton yang belum pernah membaca novelnya, akankah memberikan pengalaman yang berbeda? ========== Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah seorang mahasiswa S2 di universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Selama ini perempuan yang dikenal dekat olehnya hanya ibu dan neneknya. Fahri memang sempat naksir seorang perempuan di sekolahnya namun apalah arti cinta monyet yang dipengaruhi oleh hormon testoteron seorang remaja puber? Menikah. Fahri memang ingin menikah dengan perempuan shalehah agar menyempurnakan setengah agamanya. Namun untuk mencari bidadari itu Fahri belum sempat. Hidup Fahri penuh dengan target. Keluarganya telah mengorbankan nyaris segalanya agar dia bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Biaya untuk kuliah di Al-Azhar Mesir didapat dari hasil menjual sawah warisan dari kakeknya. Untuk itu Fahri membuat peta hidup : 2 tahun selesai master, 4 tahun selesai doktor, dan 4 tahun selanjutnya menjadi guru besar. Menikah ketika dia menulis tesis magister. Berarti sekitar waktunya semakin dekat... tapi siapa perempuan beruntung itu? Ada cerita tentang Maria Girgis (Carissa Putri) seorang Kristen Koptik yang berprilaku amat Islami, senang membaca Al-Quran bahkan hafal surat Maryam dan Al-Maidah. Lalu ada Nurul (Melanie Putri), seorang mahasiswi Indonesia di Al-Azhar juga. Pintar, baik hati, cantik, sibuk menjadi ketua Wihdah namun masih mau mengajar anak-anak membaca Al-Quran, terlebih lagi putri tunggal seorang pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Nurul diam-diam mencintai Fahri. Namun tak pernah punya keberanian untuk mengatakan atau memberi sinyal kepada Fahri. Kemudian Noura (Sazkia Mecca), tetangga depan flat Fahri, adalah seorang perempuan cantik yang mengalami kekerasan dalam rumahnya oleh ayahnya : Bahadur. Sejak Fahri menolongnya keluar dari rumah itu dengan bantuan Maria dan Nurul, Noura pun jatuh cinta dan mengirimkan surat cinta kepadanya. Tapi... masih ada lagi. Fahri mengenal gadis terakhir ini di metro. Fahri menolongnya dari amukan warga Mesir karena gadis bercadar ini tak tega dan memberikan kursinya kepada seorang ibu warga Amerika yang kepanasan. Sedangkan penumpang yang lain menganggap kalau sekarang waktunya mereka memberikan pelajaran bagi turis Amerika itu atas apa yang dilakukan oleh negaranya. Dan siapakah perempuan itu? Bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang menaruh hati pada Fahri? Bagaimana dengan akhir cerita cinta yang religius ini...??? taken from : http://ruangfilm.com/?q=katalog/ayat_ayat_cinta  | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Fantastis dan penuh dengan imajinasi liar, kesan pertama yang dapat diungkapkan usai menonton film Enchanted, karena film ini mampu mengkombinasikan antara animasi dan musikalisasi dalam satu format.
Meski isi cerita dalam film Enchanted ini bukanlah cerita baru, tapi kemasan dan tangan dingin sang sutradara Kevin Lima, mampu mengungkapkan secara nyata ide dari si penulis film, Bill Kelly. Penggabungan antara animasi dan musikalisasi pun tercipta, hasilnya voila... film pun menjadi sangat menarik dan menakjubkan. Karena penggabungan gambar animasi dengan sosok aktor dan aktris pemerannya begitu sempurna.
Bill Kelly mungkin mengambil ide cerita ini dari kisah Snow White dan Cinderella. Karena ini bisa dilihat dari kostum yang dikenakan oleh para pemain dalam fim ini. Tapi meski mengadopsi cerita Snow White dan Cinderella, cerita yang ditulis oleh Bill Kelly sudah mengalami perubahan di sana sini dong. Sehingga yang tertuang dalam alur cerita film adalah inspirasi dan ide-ide segar yang di aktualkan dalam film. Kesan klasik dan modern pun tercermin pada masing-masing tokoh yang muncul, sehingga memperkuat karakter mereka dalam film ini.
Seperti layaknya cerita seorang putri, film ini juga menampilkan berbagai kisah romantis, sedih dan bahagia. Bahkan diakhir film ini pun dikisahkan sang putri hidup bahagia dengan pasangannya. Meski pasangan sejatinya bukanlah sang pangeran dari negeri dongeng seperti yang ada di dalam kisah-kisah cerita princes.
Sang pangeran merupakan seorang pengacara yang menangani kasus perceraian. Kalau dalam cerita Cinderella, selalu dikerumuni makhluk-makhluk hutan menggemaskan dan sedangkan Snow White ditemani tujuh kurcaci yang riang nan setia, Putri Giselle tidaklah begitu. Sebagai pengganti tujuh kurcaci maupun makhluk-makhluk hutan yang menggemaskan, dihadirkan burung merpati, tikus dan kecoa.
Enchanted memadukan animasi gaya lama yang digambarkan dengan kondisi zaman masa kini. Film ini juga menggabungkan unsur film animasi tradisional dua dimensi, realita nyata dan CGI atau komputer grafik. Hasilnya, plesetan dongeng yang menghibur.
Kisah berawal dari dunia animasi bernama Andalasia. Hiduplah Putri Giselle (Amy Adams) yang tengah menyiapkan pernikahannya dengan sang pujaan hati, Pangeran Edward (James Marsden). Tiba-tiba, mereka harus tersesat di dunia nyata di Times Square, Manhattan, akibat ulah si Ratu Sihir sekaligus ibu tiri Giselle (Susan Sarandon).
Di kota modern itu, Giselle malah berubah wujud menjadi seorang permaisuri nyata. Dia pun bertemu dengan pengacara ternama, Robert (Patrick Dempsey), dan kehidupan baru Giselle pun dimulai. Sementara itu, karena kehilangan sang putri, pangeran Edward pun menyusul Giselle ke dunia modern.
"Siapa saja dalam cerita di dunia dongeng tentu mencoba menemukan cinta sejatinya, impian mereka pun bisa jadi kenyataan,” ungkap sang sutradara, Kevin Lima. Mimpi yang menjadi kenyataan dan menemukan cinta sejati inilah yang berusaha dituangkan dan diwujudkan Lima dalam film.
Lima menambahkan, dalam film ini juga berusaha diungkapkan, mitos cinta pada pandangan pertama tidak selamanya benar. Yang benar adalah bagaimana mencari cinta sejati yang sebenarnya. Ini terlihat jelas dalam karakter Giselle, yang pada akhirnya telah menemukan cinta sejatinya, bukan cinta pada pandangan pertama.
Lima ingin menceritakan tentang sebuah impian yang bisa nyata meskipun di dunia modern. Film yang dikemas dengan gaya komedi romantis ini sepertinya memiliki pesan yang mudah diterima penontonnya.
Dari awal, film ini memang sedikit keluar dari alur kisah-kisah kreasi Disney. Disney pun berharap Enchanted bisa menjadi franchise sukses dengan beberapa sekuel, seperti yang terjadi pada Pirates of the Carribean. Tim produksi Enchanted mengaku sangat antusias membuat film ini. Salah satu alasannya adalah ide memplesetkan dongeng yang pernah dipopulerkan perusahaan itu sendiri.
Menurut Lima, para pejabat Disney mengetahui bahwa satu-satunya cara mengerjakan film ini adalah mengeluarkan ideologi lama mereka. ”Sehingga, kami bisa melihat siapa kita di masa lalu dan mampu tertawa,” lanjutnya.
Ketika ditanya apakah Enchanted akan menjadi film franchise, Lima mengaku dirinya dan pihak Disney berharap demikian. Ia juga mengaku telah memiliki beberapa ide untuk sebuah sekuel film itu, dengan mempertahankan beberapa tokoh utama.
Pamor Lima sendiri di dunia animasi tidaklah diragukan lagi. Ia pernah menyutradarai Tarzan dan 101 Dalmatians. Ia juga pernah merancang karakter-karakter dalam The Little Mermaid dan Aladdin.
Nah... apakah Giselle akan kembali berkumpul bersama pangeran pujaan hatinya? Lalu bagaimana dengan sang ratu jahat yang selama ini membenci Giselle? Bagaimana dengan nasib Sang Pangeran? Bagaimana Kisah cinta kehidupan mereka yang nyata dan dalam kartun (dongeng)? Supaya nggak bingung dan penasaran, kenapa nggak nonton saja film ini. Berhubung sangat cocok di tonton dengan pasangan kamu, karena film ini sarat dengan pesan-pesan cinta dan kasih sayang.
taken from : http://www.rileks.com/movie/?act=detail&artid=31102006115755     | STARDUST | Nov 16, '07 1:54 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Pernahkah melihat bintang jatuh? Dalam 'Stardust', hati dari sang bintang jatuh ini punya kekuatan untuk hidup abadi selamanya. Semua orang pun berlomba mendapatkannya.
Kisah ini berasal dari sekaratnya Raja Stormhold (Peter O'Toole). Empat putranya yang tersisa, Septimus, Primus, Tertius dan Secundus akhirnya berebut kekuasaan. Secundus yang kurang beruntung pun jadi korban ketamakan saudaranya, ia meninggal gara-gara didorong dari atas balkon. Ketiga saudara meraka lainnya, Quartus, Quintus dan Sextus telah meninggal dan menjadi hantu.
Sebelum meninggal, Raja melepas kalung ruby miliknya. Kalung itu terbang dan berubah jadi sebongkah berlian besar. Raja berujar siapa yang bisa membawa berlian itu kembali maka ia yang berhak jadi Raja. Seketika berlian itu terbang ke langit dan jatuh kembali ke bumi seperti bintang jatuh.
Itu memang benar-benar bintang jatuh. Berlian itu kembali turun ke bumi membawa seorang bintang yang berwujud wanita cantik bernama Yvane (Claire Danes). Di tempat lain seorang pemuda bernama Tristan (Charlie Cox) melihat bintang itu bersama kekasihnya, Victoria.
Victoria meminta Tristan untuk membawa bintang jatuh itu padanya sebagai bukti cinta. Sementara itu di tempat lain tiga orang penyihir bersaudara juga mengincar sang bintang jatuh untuk mendapatkan hatinya. Hati segar sang bintang jatuh dapat membuat mereka hidup abadi. Salah satu dari mereka yaitu Lamia (Michelle Pfeiffer) pun memburu Yvane.
Semua orang punya niat sendiri untuk mendapatkan hati sang bintang. Begitu juga para putra kerajaan yang mengincar kalung berlian yang dikenakan oleh sang bintang. Sebuah hati begitu memikat banyak orang dan jadi rebutan. Siapakah yang beruntung?
Film yang disutradarai Matthew Vaughn itu diambil dari novel berjudul sama karya Neil Gaiman. Robert de Niro dan Sienna Miller juga terlibat sebagai tokoh cameo dalam film ini. Sedikit unsur mistik, kehidupan nyata, perebutan kekuasaan kerajaan dan komedi jadi satu paket. Satu lagi, kisah cinta.
Ketamakan membawa seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Namun hati seorang bintang jatuh hanya pantas dimiliki oleh mereka yang benar-benar mengerti. Banyak kisah tak terduga yang membuat Anda berdecak kagum.
Belum lagi petualangan sang bintang jatuh yang akhirnya menginjakan kakinya ke bumi. Berada di bumi adalah impian sang bintang jatuh, sayang bumi tidak bersahabat dengannya. Siapakah yang akan menyerah, Tristan, para penyihir, putra-putra kerajaan atau sang bintang jatuh?
taken from : http://www.detikhot.com/index.php/style.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/07/time/171257/idnews/849711/idkanal/229
  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Hah...! gigolo! Gak salah tuh. Jangan under estimate dulu, itu tidak terjadi di dunia nyata. Tora Sudiro menjadi gigolo dalam salah satu film terbarunya yang berjudul Quickie Express garapan rumah produksi Kalyana Shira Films. Film ini memang bercerita tentang gimana susahnya orang hidup di belantara beton Jakarta, sehingga akhirnya banyak orang memilih jalan pintas. Tora Sudiro berperan sebagai Jojo, seorang yang terjebak dalam kerasnya kehidupan di kota besar. Setelah mencoba peruntungan dengan bekerja di berbagai profesi, mulai dari office boy di sebuah toko perbelanjaan sampai akhirnya terdampar menjadi tukang tambal ban. Dari situlah ia kemudian bertemu dengan seorang pria tua kaya raya yang memiliki perusahaan bergerak di bidang jasa male escort. Untuk menghindari serangan dari kelompok religius, lelaki tua ini menjalankan bisnisnya dengan kedok pizza delivery service yang diberi nama QUICKIE EXPRESS. Di perusahaan itu Jojo bergabung dengan dua orang teman, Piktor (Lukman Sardie), dan Marley (Amink), yang juga “anak baru” di tempat itu. Dengan tampang dan keunikan mereka, tak lama kemudian mereka menduduki posisi tinggi di perusahaan escort tersebut. Hidup mereka jauh lebih baik dan ternyata mereka menikmati pekerjaan mudah dan juga menghasilkan cukup banyak uang. Namun kebahagiaan mereka justru terusik saat Jojo bertemu dengan seorang gadis mahasiswi kedokteran dan jatuh cinta padanya, dan menemukan hubungan antara sang gadis dengan salah satu tante pelanggan dan mafia Jan Pieter Gunarto. Setelah sebelumnya bioskop Indonesia digempur dengan film bergenre horor. Kali ini bioskop-bioskop tersebut akan segera tersenyum lewat sajian film Quickie Express yang merupakan film bergenre komedi seks. “Sex comedy is always funny buat gue" ujar Dimas Djay, sang sutradara sekaligus pemilik ide cerita. "Semua yang berbau dan menyerempet-nyerempet atau lawakan yang cenderung ke arah seks sering bikin orang ketawa. Dan gigolo sebenarnya menarik karena di saat pria yang dengan sejuta egonya, sejuta harga dirinya menjalankan pekerjaan itu, maka seluruh ego dan harga diri itu hilang. Dia dibayar, jadi harus jauh-jauh membuang harga dirinya dan egonya. Profesi gigolo nggak semudah yang kita pikir: datang langsung hajar.” tegasnya ketika ditanya kenapa memilih genre tersebut. Film ini selain dibintangi oleh Tora Sudiro, Lukman Sardi dan Aming juga memperkenalkan aktris pendatang baru Sandra Dewi. Juga melibatkan aktor dan aktris kawakan lainnya seperti Rudy Wowor, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Ria Irawan, Tino Saroenggalo, serta pemeran pembantu lainnya seperti Melissa Karim, Ruben Elishama dan Imelda Taurine yang juga melengkapi kehebohan cerita yang ditawarkan di Quickie Express. Quickie Express adalah sebuah film dark comedy yang penuh sindiran, bagaikan menggigit sepotong pizza yang terlihat lezat, tetapi tenyata alot bagaikan ban karet. Film ini akan diputar serentak di jaringan bioskop 21 dan Blitz Megaplex pada tanggal 22 November 2007. Jadi, simpan ketawa anda untuk menghadapi film ini. taken from : http://ruangfilm.com/?q=hal/2007/11/05/quickie_express_tora_jadi_gigolohttp://www.21cineplex.com/movie.cfm?id=1764  | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Wajah seorang pembunuh kadangkala tidak seseram yang kita bayangkan, dia bisa saja seseorang yang tampak rapi dan menyenangkan, ataupun seorang yang sangat terkenal dan terhormat. Pembunuh juga tidak memerlukan alasan khusus untuk membunuh, tidak perlu ada dendam atau hubungan apapun, terkadang pembunuhan terjadi hanya untuk kesenangan atau keisengan belaka. Mr. Brooks adalah cerita tentang Earls Brook (Kevin Costner), tipikal dari pembunuh tersebut, dengan latar belakang yang diceritakan sangat sempurna, seorang pengusaha kaya, pemilik sebuah perusahaan kemasan yang menjadi Man of The Year di Portland saat itu, memiliki istri cantik, Emma (Marg Helgenberger) serta seorang putri, Jane (Danielle Panabaker) yang sangat dicintainya. Sangat sempurna, sedemikian sempurnanya hingga sang istri tidak mengetahui kalau ternyata Brooks memiliki ‘hoby’ yang sangat aneh, yaitu membunuh pasangan yang sedang bersetubuh secara acak. Setelah 2 tahun berhasil menghindar dari Marshall (William Hurt), kawan ilusinya, ‘setan pribadi’ dalam diri Brooks dan tidak melakukan pembunuhan, suatu saat Brooks kembali tergoda untuk melakukan pembunuhan yang sedianya merupakan pembunuhan terakhirnya. Apa lacur, tanpa sengaja seorang fotografer amatir, Smith (Dane Cook), berhasil merekam gambar saat Brooks melakukan pembunuhan. Brooks, pembunuh yang sangat cerdas dan rapi dalam melakukan pembunuhan, kali ini harus memutar otak untuk bisa terlepas dari jerat hukum. Cerita yang cukup menarik, menegangkan sekaligus mengasyikkan untuk disimak. Duet Sutradara Bruce A. Evans dengan Penulis Skenario Raynold Gideon (Stand By Me dan Starman) mampu menampilkan ambiguitas seorang pembunuh dengan baik. Menyentak logika umum dan menggugah rasa penasaran penonton dengan fakta yang tidak dapat disangkal, siapa yang akan menyangka kalau Man Of The Years anda adalah pembunuh. Kevin Costner yang juga jadi produser dalam film ini mampu tampil dengan baik, karakter Brooks yang kompleks terbangun dengan jelas. Ekspresi yang ditampilkan dalam tiap adegan cukup menggugah rasa penasaran penonton. Kolaborasinya dengan William Hurt yang juga tampil menawan, tanpa ekspresi, karakter ‘iblis cerdas’, mampu menyuguhkan efek dramatis dalam film. Yang juga patut disorot dalam film ini adalah penampilan Dane Cook, yang sangat terkenal sebagai komedian, aktingnya sepanjang film sebagai Smith, fotografer amatir yang ambisius, mampu mengangkat cerita dan memberikan komedi situasi yang bisa membuat kita tersenyum sekaligus tegang. Selain itu anda juga bisa menyaksikan akting Demi Moore, kali ini ia tampil sebagai detektif (Tracy Atwood) yang diburu oleh napi kejam dan diperas oleh mantan suaminya. Latar belakang yang coba dikait-kaitkan tapi sayangnya tidak digali lebih dalam sehingga hubungan antara Brooks dan Atwood menjadi sekedar ‘serba kebetulan’. Secara keseluruhan cukup menarik, drama thriller psikologi yang berusaha tampil rasional. Anda akan melihat bahwa sang pembunuh harus berdoa sebelum dan sesudah melakukan pembunuhan. Menampilkan adegan kekerasan yang brutal dan dibumbui adegan seks membuat film ini diperuntukkan bagi dewasa. Taken from : http://ruangfilm.com/?q=ulasan/mr_brooks    | ALONE | Jul 26, '07 3:35 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Horror |
Alone, sebuah suspense thriller dengan horor sebagai pelengkap atau film horor dengan suspense thriller sebagai pelengkap, nampaknya sang sutradara cukup gila sekaligus jenius dalam merangkai alur cerita menjadi sedemikian menariknya untuk dinikmati. Cerita tentang Pim seorang wanita bahagia yang tinggal bersama suaminya Wee di Korea. Pada satu hari menerima kabar bahwa ibunya sakit keras dan mengharuskan mereka untuk pulang ke Thailand menemani sang ibu. Kepulangan tersebut ternyata menguak berbagai macam kenangan masa lalu dalam hidup Pim. Pim dibayangi oleh penampakan dari saudaranya, Ploy, pasangan kembar siam yang berhasil terpisahkan melalui sebuah operasi. Hal yang sama kemudian dialami juga oleh Wee. Kejadian yang terus berulang tersebut membawa Wee pada satu fakta yang tidak dapat dihindarkan, menguak berbagai misteri seputar kematian Ploy yang selama ini tersembunyi dan tidak pernah diketahuinya. Dengan skenario yang cukup orisinil dan penggarapan alur cerita yang kuat, kisah pasangan kembar siam yang ‘terpisahkan’ ini berhasil terangkat dengan baik dalam film Alone. Tidak mengandalkan mitos, atau penonjolan karakter sang hantu yang berlebihan, film horor negeri tetangga ini tampil menarik justru karena alur ceritanya yang memang mengundang rasa penasaran penonton ditambah ending yang sempurna dan memberi kejutan menjadikan sensasi tersendiri dan mengundang “ooh” panjang. Beberapa pakem film horor memang tampil seperti biasa, gambar-gambar yang suram, rumah tua, lampu yang byar-pet, serta ilustrasi musik yang menghentak, namun dalam membangun suasana mencekam dan menegangkan, sutradara tidak melulu mengeksploitasi penampakan hantu yang menyeramkan, mereka mampu mencekam suasana melalui rangkaian dialog, gambar, dan alur cerita. Hantu hanya dihadirkan ketika memang benar2 dibutuhkan. Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom, duet sutradara dan penulis skenario yang sukses menggarap Shutter ini berhasil menunjukkan kepiawaiannya dalam bercerita. Masha Wattanapanich sebagai Pim sekaligus Ploy cukup baik dalam memerankan kedua karakter tersebut melalui ekspresinya, seorang yang harus kehilangan kembarannya yang sekaligus bagian lain dari tubuhnya. Tetapi sepertinya Masha, aktris cantik yang sedang menjadi bersinar di Thailand, terlihat kurang dalam pengucapan dan penekanan dialog yang cenderung datar dalam beberapa adegan. Vittaya Wasukraipaisan juga tampil baik dalam film ini, berperan sebagai Wee, suami yang setia dan sangat mencintai istrinya dan harus mengalami beberapa kenyataan pahit yang tidak bisa dielakkan. Bila dibandingkan dengan Shutter yang tercatat menjadi Box Office di Thailand, keduanya cukup baik dalam menampilkan cerita, dan tampaknya menjadi hal yang khas dari sebuah film horor garapan Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom. Tapi ritual membakar foto sebagai penghapus kenangan buruk mungkin bisa digantikan dengan ritual lain karena tampil tetap dalam adegan di dua film tersebut. Ekspansi film horor ini ke Indonesia tampaknya harus bisa menginspirasi film horor kita agar bisa lebih berkualitas dan lebih variatif dalam penggarapan ide cerita sehingga tidak lagi mengeksploitasi mitos dan hantu uzur yang sudah berulangkali diceritakan dalam berbagai versi. Semoga. Taken from : http://ruangfilm.com/?q=ulasan/alone  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Cinta bukan hanya dimaknai lewat kata-kata indah nan puitis yang diucapkan, tidak juga identik dengan suasana romantis dan sejuta kesamaan. Terkadang cinta hadir dalam situasi yang sulit, suasana yang mencekam dan berjuta perbedaan, semua tergantung dari cara mencintai serta menerimanya dan yang pasti cinta akan punya sejuta alasan untuk memaafkan. Menyaksikan film ini berarti anda harus siap memaknai ulang cinta. The Painted Veil merupakan film yang diadaptasi dari novel klasik karya W. Somerset Maugham, diterbitkan di London pada tahun 1925. Mengangkat cerita cinta yang tidak akan pernah basi ditelan jaman, novel Maugham mampu menghadirkan persoalan tersebut dengan sangat menawan. Mungkin hal itu pula yang menyebabkan novel ini 3 kali diangkat ke layar lebar setelah The Painted Veil (1934, sutradara Ryszard Boleslawski), The Seventh Sin (1957, sutradara Ronald Neame) dan kini The Painted Veil (2006) dengan sutradara John Curran. Cerita tentang seorang gadis dari keluarga kaya di London pada sekitar tahun1920-an, Kitty (Naomy Watts), memutuskan untuk menerima lamaran Walter Fane (Edward Norton) seorang dokter ahli bakteorologi dari keluarga kelas menengah hanya agar ia dapat keluar dari rumah dan menghindar dari ibunya. Segera setelah menikah, mereka pergi ke Shanghai – China karena Fane mendapat tugas disana. Di Shanghai yang saat itu tengah marak dengan pergolakan politik dan isu nasionalisme, Fane berusaha membahagiakan Kitty dengan mengajaknya ke Komunitas Inggris yang ada disana. Pasangan tersebut kemudian berkenalan dengan Charles Townsend ( Li Ev Schreiber). Kitty yang merasa tidak bahagia dan tidak ada kecocokan dengan Fane, bakteriologi yang serius dan mendedikasikan diri pada pekerjaannya, merasa menemukan cintanya saat bersama Townsend dan menjalin hubungan dibelakang Fane. Ketika Fane kemudian mengetahui hal tersebut, ia memutuskan untuk menerima penugasan di Mei-Tan-Fu, sebuah desa didaerah pedalaman China yang sedang terkena wabah kolera, penyakit yang sangat mematikan saat itu. Ia memberi Kitty pilihan untuk ikut bersamanya atau bercerai. Disaat itulah fakta terungkap, bahwa sebenarnya Kitty tidak pernah mencintai Fane. Kehidupan ditengah pedesaan yang dilanda wabah kolera tidaklah menyenangkan, Kitty yang terpaksa ikut dengan suaminya harus menghadapi masa-masa sulit ini. Di tempat tersebut ia belajar untuk mengenal dan memaknai cinta dalam kondisi yang paling sulit.. Dramatis dan sangat menawan, sebuah adaptasi yang indah dan nyaris sempurna, John Curran sang sutradara, berhasil mengangkat ilustrasi Maugham dalam novel dengan visualisasi yang sangat baik. Sinematografi yang ditonjolkan oleh Curran dengan dukungan pemandangan sungai yang jernih, sawah, pegunungan dan pedesaan di China tempo dulu mampu memuaskan mata penonton. Sudut pengambilan gambar yang mampu menangkap keindahan dan moment – moment penting dalam film membawa penonton untuk tidak berkedip mengikuti alur cerita, menjadi kekuatan film dan poin tersendiri untuk John Curran. Detil China pada era 1920-an juga digarap dengan baik, mulai dari pakaian, rumah, senjata hingga buku-buku dan pernik kecil lainnya yang menjadi properti film tidak terlewatkan oleh mereka. Curran yang memenangkan penghargaan di Festival Film Toronto untuk Praise (1998) berhasil mengubah pandangan saya terhadap film yang diadaptasi dari novel. Penggarapan cerita yang dibuat sedemikian rupa membuat alur film ini sangat menarik untuk diikuti, Ron Nyswaner (Philadelphia-1993 dan Love Hurts-1991), penyusun skenario film mampu menampilkan banyak hal selain konflik utama yang tercipta, latar belakang sosial dan pergolakan politik Nasionalisme di China menentang penjajahan Inggris saat itu mampu mengedepan dan berhasil bersentuhan bahkan menguatkan cerita serta mempertajam konflik. Curran dan Nyswaner harus melakukan riset sejarah China secara mendalam untuk menjadikan China tidak hanya sekedar latar belakang yang biasa saja. Pilihan dialog yang ditampilkan dalam film juga sangat impresif dan berkesan Edward Norton (Down in the Valley, American History X dan Primal Fear) berhasil memerankan karakter Fane dengan mengesankan. Norton terlihat menjiwai karakter Fane yang digambarkan serius, baik hati, memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan dan suami yang sangat mencintai istri, menjadi sangat hidup lewat ekspresinya. Naomy Watts (Kingkong, 21 Grams) juga tampil dengan baik, memerankan Kitty, wanita yang sedikit labil dalam pilihan hidup dan cintanya tersebut mampu membuat penonton mencibir sekaligus terharu. Pengucapan dialog demi dialog dan penguasaan emosi pada adegan penting mampu menunjukkan level kualitas aktingnya. Secara keseluruhan film ini layak untuk menjadi pilihan anda yang ingin menyaksikan drama percintaan tampil dengan elegan, cerdas, penuh dengan pertimbangan rasional, dan ending yang berkesan. taken from : http://ruangfilm.com/?q=ulasan/painted_veil_the  | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Komedian Jim Carrey selama ini dikenal melalui peran-peran konyolnya. Namun dalam film terbarunya "Number 23", aktor asal Kanada ini tampil beda dan berupaya keluar dari jalur komedi yang telah membesarkan namanya. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung terjun ke dalam film horor.
Kehidupan Walter Sparrow (Jim Carrey) menjadi terputar-balik dan mengalami siksaan psikologis setelah dia menerima Novel misterius, "The Number 23" yang diberikan oleh sang Istri, Agatha (Virginia Madsen) sebagai hadiah ulang tahun. Gangguan psikologis tersebut dipicu oleh obsesi yang muncul setelah membaca isi novel tersebut yang menggambarkan misteri pembunuhan yang nampak jelas tergambar disekitarnya. Sparrow merasa bahwa buku itu berkisah tentang jalan hidupnya. Bahkan hari demi hari, ia kian terobsesi pada nomor 23. Ia juga merasa ramalan yang tercantum dalam buku itu membawa konsekuensi yang jauh lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan.
Buku Number 23 itu sendiri menceritakan perjalanan seorang detektif bernama Spearling (juga diperankan oleh Carrey) yang menangani kasus pembunuhan. Sparrow pun semakin larut dalam situasi psikologis yang terbangun oleh buku misterius itu.
Sparrow semakin dikuasai fantasi buruk yang meramalkan nasib buruk bagi istri dan anaknya, Robin (Logan Lerman). Ketakutan bahwa nasib buruk yang dialami oleh keluarga temannya, Isaac French (Danny Huston), juga akan menimpa keluarganya, membuat Sparrow masuk dalam usaha untuk memecahkan misteri yang ada dibalik angka 23 tersebut. Akankah ia berhasil? ataukah misteri tersebut sedemikian kuat dan akan menghancurkan masa depannya?   | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Orang tua di Indonesia yang ikut campur untuk menentukan jodoh terhadap sang anak seringkali terjadi. Sementara dalam budaya barat, menjodohkan anak adalah ide usangan. Tapi tunggu dulu, rupanya menjodohkan anak jaman modern masih juga terjadi pada film terbaru yang dibintangi oleh Mandy Moore serta Diane Keaton yang berjudul Because I Said So. Film ini menceritakan seorang ibu, Daphne Wilder (Diane Keaton) yang berusaha menjodohkan salah satu anaknya, Milly (Mandy Moore) yang belum mendapatkan jodoh. Daphne menjadi ambisius mencarikan jodoh untuk Millie, mengingat dua saudari Millie, Maggie (Lauren Graham) dan Mae (Piper Perabo) sudah menikah. Segala cara dilakukan oleh Daphne, bahkan ia rela untuk mencarikan jodoh untuk Millie lewat jaringan jodoh internet. Daphne akhirnya menemukan salah satu calon menantunya yang dianggap pas untuk Millie. Pria mapan serta ganteng tersebut adalah Jason (Tom Everett Scott) yang bekerja sebagai arsitektur di perusahaan ternama. Daphne merasa bahwa Jason merupakan pilihan yang cocok untuk anaknya, tanpa banyak basa-basi Daphne berkomplot dengan Jason agar Millie sesegera mungkin dapat bertemu dengan Jason. Namun, rencana sempurna Daphne sedikit mengalami masalah ketika pria lain bernama Johnny (Gabriel Macht), ikut masuk dalam bursa perjodohan untuk Millie. Walaupun tidak melalui Daphne, akhirnya Johnny juga dapat bertemu dengan Millie. Sementara Millie sendiri yang tidak tahu bahwa Jason adalah hasil perjodohan untuk dirinya, merasa senang akan datangnya pria dalam hidupnya. Terlebih ketika Millie juga bertemu dengan Johnny yang dianggap sangat mengerti akan dirinya. Dunia berubah 180 derajat buat Millie yang tadinya seringkali patah hati, kali ini justru mendapatkan dua pemuda sekaligus dalam hidupnya. Kisah balutan drama romants ala Amerika dengan bumbu komedi dalam film ini sebenarnya tidak berbeda jauh denga film Hollywood lainnya. Namun, cerita film ini menjadi menarik ketika konflik yang ditampilkan bukanlah hanya mengenai Millie dalam mencari jodoh. Namun, konflik bagaimana gaya serta Daphne berusaha mati-matian mendapatkan jodoh untuk anaknya, serta bagaimana Daphne terlalu ikut campur dalam kehidupan Millie, cukup menarik sebagai tontonan ringan bagi anda. taken from : http://www.ruangfilm.com/?q=node/719  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Suatu serial komedi situasi yang menampilkan karakter dan cerita tentang warga muslim mulai ditayangkan di stasiun televisi nasional Canada, CBC, hari Selasa (09/01).
Serial yang dinamai ini LITTLE MOSQUE ON THE PRAIRE ini menyajikan kisah sekelompok muslim yang mencoba membaur di sebuah kota kecil di Kanada.
Acara ini menjadi acara komedi Muslim pertama yang ditayangkan di televisi nasional di Amerika Utara.
Wartawan BBC Lee Carter di Toronto melaporkan, acara ini juga membahas berbagai ketakutan dan prasangka pasca Peristiwa Sebelas September 2001.
LITTLE MOSQUE ON THE PRAIRE atau Masjid Kecil di Padang Rumput diproduksi berdasarkan pengalaman penulis acara itu, Zarqa Nawaz.
Dia adalah seorang wanita Muslim yang pindah dari sebuah kota besar ke daerah padang rumput Kanada untuk bekerja di sebuah masjid.
Seri komedi situasi itu mengikuti seorang Imam kelahiran Kanada juga pindah ke daerah padang rumput dan bertemu dengan berbagai tokoh Muslim dan non-Muslim di kota kecil di Saskatchewan.
Nawaz mengatakan, dalam menetapkan sasaran dalam sitcom, dia adalah seorang satiris yang memberi kesempatan yang sama kepada semua orang.
"Orang tidak bisa mengatakan saya hanya menjadikan suatu kelompok, namun bukan kelompok lain, sebagai sasaran, "kata Nawaz.
Menurut dia, serial ini melihat masyarakat secara keseluruhan. "Saya membidik kaum sayap kiri, kaum sekuler, saya juga membidik nak-anak remaja yang suka melawan," katanya.
"Saya rasa sangat penting untuk membidik semua orang dalam komedi, agar tidak ada orang yang senang, kecuali pemirsa," tandasnya.
Episode pertama LITTLE MOSQUE ON THE PRAIRE memuat sejumlah contoh humor pasca 9/11, termasuk adegan polisi di bandara menggelandang sang imam baru untuk diinterogasi setelah percakapan teleponnya mengundang salah tafsir.
Kelakar tentang racial profiling dan terorisme dibela oleh Direktur Direktur Eksekutif urusan programming CBC Kirsten Layfield.
Menurut Layfield, sitcom ini berani. "Ini berani dalam artian memunculkan kembali dan membahasnya dengan cara yang jujur dan jenaka," kata Kirsten Layfield.
"Humor bersumber dari kebenaran, dan itulah tepatnya yang dialami kelompok-kelompok tertentu saat ini, dan kami bisa melihat humor di situ -- kami rasa ini sangat bagus," tandas Layfield.
Kesuksesan sitcom yang menampilkan karakter-karakter muslim ini bergantung pada pandangan kritikus dan khalayak penonton di Kanada.
Meski demikian, kabar mengenai acara itu sudah mengundang perhatian dan keingintahuan, terutama dari negara tetangga di selatan, Amerika Serikat.
Sejumlah lembaga media berita Amerika sangat tertarik dengan isi acara televisi Kanada ini dan mengirim kru ke negara tetangga yang biasanya tidak begitu mereka perhatikan.      | NORBIT | Apr 16, '07 2:28 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Eddie Murphy kembali beraksi. Setelah tampil menawan menjadi penyanyi dalam film Dreamgirls, Eddie kembali menancapkan kemampuannya dalam film terbarunya yang berjudul Norbit. Tidak tanggung-tanggung, Eddie berperan dalam 3 karakter sekaligus. Sebagai Norbit, Mr. Wong, serta Rasputia. Film ini dimulai lewat adegan sebuah rumah yatim piatu yang dikelola oleh Mr. Wong (Eddie Murphy) pria keturunan Cina yang menetap di AS. Norbit yang masih bayi dibuang tepat di depan rumah Mr. Wong yang menjadi sasaran bagi para orang tua yang tak menginginkan anaknya. Norbit tumbuh bersama para anak yatim piatu lainnya di bawah asuhan Mr. Wong yang penuh kasih. Norbit kecil (Khamini Griffin) mempunyai seorang sahabat sejati bernama Kate (China Anderson). Norbit yang loyo, selalu dengan setia ditemani oleh Kate, bahkan untuk belajar mengendarai sepeda Kate dengan sabar mengajari Norbit. Namun, Norbit harus pasrah ketika Kate berhasil diadopsi oleh orang tua lainnya. Norbit merasa kehilangan kebersamaannya dengan Kate. Norbit (Jonathan Robinson) tumbuh menjadi remaja, namun satu hal, Ia tetaplah seorang yang lemah dan selalu menjadi bulan-bulanan anak-anak lainnya. Sampai suatu saat Norbit remaja yang jadi bulan-bulanan berhasil diselamatkan oleh Rasputia, seorang remaja gendut, seram, serta semena-mena. Hidup Norbit diselamatkan Rasputia, bahkan setelah berkunjung ke rumah Rasputia yang mempunyai 2 orang abang, Norbit merasakan sebuah keluarga yang sebelumnya tak pernah didapatkan. Norbit dewasa (Eddie Murphy) suatu saat akhirnya menikah dengan Rasputia (Eddie Murphy) yang sebesar Traktor. Namun, Norbit yang memang lemah berada di bawah kendali Rasputia sepenuhnya. Apapun yang dilakukannya harus seijin Rasputia. Kalau dalam istilah Indonesia, Norbit adalah tipe lelaki DKI (Dibawah Ketiak Istri) Namun, Norbit yang kalem, polos, dan selalu menghibur anak-anak yatim piatu di tempat Mr. Wong tidak bisa terima ketika Rasputia ternyata berhubungan dengan pria lainnya. Namun, hal tersebut cukup terobati lewat datangnya Kate dewasa (Thandie Newton). Hidup Norbit serasa kembali ceria dengan kehadiran Kate yang semakin cantik. Namun, persoalan menjadi pelik, karena Norbit dibawah kungkungan Rasputia, terlebih lagi dua abang Rasputia dengan segala cara berusaha mengambil rumah Mr. Wong untuk dijadikan area judi dan pelacuran. Norbit harus menyelamatkan rumah Mr. Wong dan juga menunjukan kepada Kate yang merupakan cinta sejatinya. Brian Robbins yang bertindak sebagai sutradara berusaha menjual komedi “ala” Eddie Murphy seperti dalam film Eddie sebelumnya Nutty Profesor. Kehebatan akting Eddie dalam memerankan beberapa karakter menjadi nilai plus dalam film ini. selebihnya, hanyalah guyonan murahan serta beberapa dialog lucu yang berusaha ditampilkan untuk membuat penonton tertawa. Kehebatan Eddie Murphy dalam memerankan tiga tokoh cukup mendapat acungan jempol. Satu sisi, Eddie harus bertindak layakanya orang tua dengan aksen Cina untuk karakter Mr. Wong, namun di satu sisi, bagaimana Eddie harus bertingkah seperti serigala ganas yang ada pada diri Rasputia. Penampilan Thandie Newton sebagai pemeran utama wanita tidaklah tampil istimewa, walaupun memang porsi untuk Thandie bereksplorasi secara bebas memang tidak menjadi bagian dalam skrip film. Penampilan Cuba Gooding Jr juga tidak terlalu spesial. Penampilannya hanyalah sebagai pelengkap saja dalam film ini. Cukup mengherankan nama besar Cuba Gooding Jr, ikut bermain dalam film ini namun tidak mendapatkan porsi besar. Semoga ini bukanlah penurunan karir Cuba dalam industri film Hollywood. Yang menarik justru penampilan Katt Williams serta Eddie Griffin yang berperan sebagai Lord Have Mercy serta Pope Sweet Jesus. Duet mereka tampil konyol untuk membuat tertawa penonton. Secara keseluruhan, film ini hanyalah sebuah tontonan hiburan dengan kualitas dari bintang kocak Eddie Murphy. Aksen “ala” kulit hitam yang cepat serta bumbu-bumbu dialog konyol menambah kelebihan film ini. Pujian juga dapat diberikan kepada kru yang berhasil membuat Eddie tampil sebagai perempuan gemuk yang menyeramkan dalam memerankan Rasputia serta tampil layaknya orang tua saat berperan sebagai Mr. Wong. Namun, walaupun ini adalah genre komedi biasa, film ini tidak dianjurkan untuk anak berusia 13 tahun untuk menontonnya. Beberapa adegan dengan kata makian serta adegan percintaan, walaupun tampil dengan adegan konyol tetap saja tidak cocok untuk anak di bawah umur 13 tahun. Selamat Menyaksikan !!! taken from : http://www.ruangfilm.com/?q=node/448  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Naga Bonar telah kembali, kali ini Naga Bonar tidak lagi harus berjuang melawan si penjajah Belanda yang lucu, tidak harus kena damprat oleh sang emak yang cerewet, atau meriang ketika melamar Kirana seperti pada Naga Bonar (1986). Namun kali ini dalam Naga Bonar Jadi 2, Naga Bonar telah mempunyai seorang anak bernama Bonaga yang telah sukses menjadi pengusaha serta Mariyam sahabatnya telah sukses menjadi asisten Menteri. Dikisahkan Naga Bonar (Deddy Mizwar) yang telah berusia senja diundang oleh Bonaga (Tora Sudiro) untuk bepergian ke Jakarta. Naga Bonar kali ini menginjakan kakinya di Jakarta yang megah namun juga punya segudang persoalan. Namun niat Bonaga tidaklah hanya untuk sekedar mengajak ayahnya melihat Jakarta, tetapi juga untuk merayu Naga Bonar agar merelakan kebun kelapa sawit warisan keluarga untuk dijadikan tempat bisnis dengan bekerja sama dengan Investor dari Jepang. Mengetahui niat Bonaga beserta teman bisnisnya mempunyai tujuan tersebut, bukan kepalang marahnya Naga Bonar. Naga Bonar tidak mau merelakan kuburan Emak, Kirana sang istri, ataupun Bujang sahabatnya tergusur karena kepentingan bisnis semata. Selain persoalan tersebut, Naga Bonar juga harus menjadi comblang antara Bonaga dengan Monita (Wulan Guritno). Naga Bonar juga harus berhadapan dengan berbagai tipe orang yang tinggal Jakarta, serta bertemu dengan Umar (Lukman Sardi) seorang supir bajaj yang polos dalam menghadapi hidup. Naga Bonar tetaplah Naga Bonar ia masih belum bisa menghilangkan tabiat mencopet, masih buta huruf, lucu, berapi-api, gemar bermain sepakbola, serta mempunyai nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa. Naga Bonar heran kenapa generasi muda jaman sekarang sering berbelit-belit dan tidak perduli pada jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban demi bangsa dan negara. Selain berbicara konflik persoalan tersebut, film ini juga banyak memberikan pesan mengenai arti serta makna bagaimana kita memberikan yang terbaik untuk bangsa. Naga Bonar Jadi 2 juga sarat memberikan kritikan mengenai kondisi bangsa yang carut marut ini lewat beberapa pesan dengan tampilan komedi. Secara garis besar, film Naga Bonar Jadi 2 masih mengambil jalur komedi untuk meraih hati penonton. Dalam film ini, Kita bisa terpingkal-pingkal ketika menyaksikan bagaimana Naga Bonar menceramahi seorang polantas, menjadi comblang untuk Bonaga dan Monita, berdebat dengan sopir metro mini, atau memimpin upacara bendera dengan menjadikan Umar sang sopir bajaj sebagai dirijen upacara. Tidak hanya berkutat pada kelucuan sentral sang Naga Bonar, namun kita juga bisa tertawa lepas melihat tingkah Bonaga bersama tiga sahabatnya, Pomo (Darius Sinathrya), Ronnie (Uli Herdinansyah), Jaki (Michael Muliadro). Belum lagi kelucuan akibat eksistensi generasi antara Naga Bonar yang mewakili jaman dahulu serta Bonaga yang mewakili generasi sekarang. Di satu sisi, Naga Bonar Jadi 2 berhasil memainkan emosi penonton lewat beberapa adegan yang mengena di hati kita lewat kejadian yang sering terjadi pada keseharian kita, atau ketika Naga Bonar bukan main sedihnya saat mengetahui Bonaga dianggap lebih mementingkan bisnis dibandingkan tanah leluhur mereka. Menariknya, Naga Bonar Jadi 2 mampu membuat kapan penonton melihat adegan kocak nan konyol dan kapan penonton harus terhenyak diam melihat adegan sedih yang ditampilkan. Selain itu, nuansa lagu dengan sentuhan nasionalisme yang dinyanyikan oleh grup band PADI juga menambah kelebihan film ini. Deddy Mizwar selain berperan sebagai Naga Bonar, juga mengambil posisi sutradara. Selain bermain apik sebagai Naga Bonar, Deddy Mizwar nampaknya pas memilih karakter para pemain. Semuanya terasa pas dengan tuntutan karakter yang ada dalam skenario film. Deddy Mizwar berhasil mengarahkan para pemain untuk menjiwai peran mereka masing-masing. Berbicara skenario yang ditulis oleh Musfar Yasin terasa sangat baik. Dialog-dialog yang diciptakan Musfar dalam film ini terasa sangat dekat dengan bahasa keseharian yang terjadi pada masyarakat. Selain itu, Musfar juga cukup baik memilih kata-kata dialog yang menohok carut marutnya bangsa ini dengan sentuhan komedi yang tidak berlebihan. Yang tidak terlupakan dalam film ini adalah beberapa dialog kental yang menjadi trade mark dalam film Naga Bonar (1986). Mulai dari kalimat “Apa kata dunia”, Sudah kubilang jangan berperang, ….”, serta beberapa kalimat lainnya. Karakter Bonaga yang diperankan oleh Tora Sudiro juga tampil cukup pas dan tidak berlebihan. Hanya saja, Tora terlihat lebih kental berbicara betawi, dibandingkan ketika harus bergaya aksen Medan saat berdialog dengan Naga Bonar. Namun itu juga masih dapat ditoleransi karena Bonaga digambarkan sudah lama tinggal di Jakarta dan mengambil kuliah di luar negeri. Trio Darius Sinathrya, Uli Herdinansyah, serta Mike Muliandro juga tampil meyakinkan walaupun hanya tampil sebagai pendukung dalam film ini. Mereka tampil menghibur dengan gaya eksekutif muda mapan, namun sebenarnya kental dengan kedaerahannya masing-masing. Begitu juga dengan Wulan Guritno yang harus memerankan sosok kalem, mandiri, namun juga mempunyai gengsi tinggi tapi sangat mencintai Bonaga. Peran tersebut bisa dimainkan Wulan dengan cukup menggairahkan di mata penonton. Karakter lainnya yang dapat diacungi jempol adalah peran Umar yang dimainkan oleh Lukman Sardi. Ia tampil dengan gaya yang polos layaknya seorang supir bajaj namun penonton dapat melepaskan bayang-bayang karakter antagonis yang dilakoninya dalam beberapa film Lukman sebelumnya. Kekurangan yang ada dalam film ini sebenarnya ada. Walaupun ada beberapa adegan yang nampaknya berlebihan, namun hal tersebut dapat ditoleransi mengingat film ini berhasil tampil beda dibandingkan beberapa film nasional belakangan ini. Secara keseluruhan Naga Bonar Jadi 2 memperlihatkan kepada masyarakat bahwa sineas kita mampu membuat film berkualitas. Film ini nampaknya akan berjaya serta membanggakan perfilman nasional kita. Semoga lewat Naga Bonar Jadi 2, dapat membangkitkan animo masyarakat untuk kembali menonton film nasional yang seringkali kecewa luar biasa terhadap film-film nasional yang bermutu rendah. Film ini semoga menjadi tolak ukur kebangkitan bagi para sineas nasional untuk semakin bersemangat membuat film yang lebih berkualitas untuk membanggakan perfilman Indonesia di kancah internasional serta berhasil menjadikan film nasional menjadi tuan di negeri sendiri. Selamat menonton !!! Pemain Deddy Mizwar sebagai Naga Bonar. Tora Sudiro sebagai Bonaga. Wulan Guritno sebagai Monita. Lukman Sardi sebagai Umar. Darius Sinathrya sebagai Pomo. Uli Herdinansyah sebagai Ronnie. Mike Muliadro sebagai Jaki. Didukung oleh: Nico Pelamonia, Indra Birowo, Jaja Mihardja, Leroy Osmani, Julia Perez, Julian Kunto, Sakurta Ginting, Eno Suwandhi, Harry Rahyan. take from : http://www.ruangfilm.com/?q=node/315  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Mr. Bean kembali melanglang buana. Negara Perancis atau negeri cinta menjadi tujuannya kali ini. Awal cerita, Mr. Bean memenangkan paket liburan ke Cannes (sebuah kota di perancis) lengkap dengan sebuah kamera video baru. Tak ada yang aneh, kan? Tentu tidak, tapi ingat, kita bicara soal Mr. Bean. Singkat cerita, Mr. Bean “berhasil” memisahkan seorang anak dari ayahnya saat hendak menaiki kereta Eurostar. Sang ayah adalah Emil Duchesvsky, seorang sutradara asal Rusia yang berniat menghadiri Festival Film Cannes dan anaknya adalah Stepan (Max Baldry). Karena merasa bersalah, Mr. Bean pun berniat menghibur anak itu sampai akhirnya mereka berdua pun terdampar di Eropa. Mereka berdua pun sepakat menuju Cannes. Dari sinilah petualangan mereka berdua dimulai. Mr. Bean's Holiday adalah sebuah komedi yang dipenuhi adegan-adegan slapstik dan juga berbagai dialog yang menghibur. Ceritanya sendiri sangat lucu meski tak masuk akal. Para karakternya sendiri memperkuat ceritanya secara dramatis. Meski lucu, ternyata ada beberapa leluconnya yang membuat kita terjebak dalam sebuah dilema. Artinya, lelucon-lelucon klasik dari serial TV atau film Mr. Bean terdahulu, kembali ditampilkan di sini. Apakah film ini hanya diisi lelucon recycle? Tentu saja nggak! kamu pasti bakal terpingkal-pingkal melihat tingkah Bean yang mengamen “menyanyikan” lagu opera. Film karya Carson Clay (Willem Dafoe) yang “diedit” oleh Bean pun pasti mampu mengocok perut kamu semua. Akting-akting para pemain di film ini juga sangat menarik. Apalagi akting Rowan Atkinson, yang nggak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam memerankan Mr. Bean, ya nggak? Sempurna dan tanpa cela. Aktor lain yang bersinar di film ini adalah Willem Dafoe. Aktor spesialis pemeran antagonis ini tampil dengan anggunnya sebagai seorang aktor dan sutradara yang ultra narsis. Tanpa melebih-lebihkan, Willem Dafoe berhasil menghidupkan Carson Clay yang merupakan perwujudan insan film Hollywood yang sejati. Selain itu Max Baldry dan Emma de Caunes juga nggak kalah tampil bagusnya. Di film ketiga ini, Rowan Atkinson masih belum hilang pesonanya sebagai komedian yang irit kata-kata dan kaya mimik serta gestur. Dengan pertemuan beragam latar budaya serta bahasa (Inggris, Prancis, dan Rusia), Rowan memang mengandalkan kemampuan "bahasa Tarzan". Sesekali hanya kata oui, non, dan gracia yang keluar dengan jelas dari mulut Rowan. Kata gracia itulah yang kemudian menyebabkan Sabina menyangka Bean dari Spanyol. Meskipun dalam serial televisi karakter Bean bisa hidup tanpa harus ada aktor pendukung, dalam film ini karakter Bean lebih kuat dengan dukungan peran Max Baldry dan Emma de Caunes. Max Baldry yang masih berumur sebelas tahun itu kini masih tercatat sebagai siswa di sebuah sekolah di Buckinghamshire, Inggris. Untuk anak seusianya Max mampu mengimbangi akting Rowan yang irit dialog. Sementara Emma adalah aktris asal Prancis yang pernah membintangi La Science des rêves, Short Order dan Ma mere. Wilem Dafoe sendiri yang pernah dinominasikan Oscar, perannya tidak berhubungan langsung dengan Bean. Dafoe dikisahkan menjadi seorang sutradara yang narsis. Sinematografi film ini sangat mencerminkan seperti serial TV-nya. Apakah itu hal yang jelek? Kalau kamu penggemar Mr. Bean, hal itu nggak jelek sama sekali. Segala kejenakaan Mr. Bean ditampilkan dengan sempurna tanpa kehilangan pegangan terhadap serial TV-nya. Sound dan musik di film ini cukup bagus. Coba deh dengarkan lagu Crash saat Bean mengejar truk ayam yang membawa tiket busnya. Enerjik dan penuh semangat, sama seperti Bean. Lagu opera di pertengahan dan akhir film ini juga mantap. Sound efeknya juga oke, terutama saat adegan pertempuran lengkap dengan tanknya. Mr. Bean's Holiday bukanlah film komedi cerdas dengan punchline yang menggigit. Tidak, ini adalah film Mr. Bean. Dengan status tersebut, Mr. Bean's Holiday nggak perlu lelucon yang cerdas buat bisa menghibur penontonnya. Singkat kata, kalo kamu emang penggemarnya Mr. Bean, film ini haram (halaah) buat dilewatkan. Pengen cari film yang lucu dan kocak buat ditonton bareng keluarga, saat ini Mr. Bean's Holiday adalah pilihan yang sangat tepat buat ditonton. http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=ekspresi&id=204757  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
'Charlotte's Web'. Mungkin nama ini sudah tidak asing lagi di telinga pecinta film. Yup, film ini memang bukan pertama kalinya dipopulerkan.
Kisah seekor babi yang memperjuangkan hidupnya dengan menawarkan persahabatan sejati ini awalnya diangkat dari sebuah buku anak-anak. Buku dengan judul sama itu ditulis oleh E. B. White tahun 1952.
Kisah 'Charlotte's Web' dimulai dari seorang anak perempuan yang menyelamatkan seekor babi kecil yang baru saja lahir. Diantara anak babi lainnya, babi kecil yang kemudian diberi nama Wilbur itu memang lebih kecil.
Adalah Fern Arable (Dakota Fanning) yang melarang ayahnya membunuh Wilbur. Sejak saat itu Fern selalu merawat Wilbur, ia memberi susu, memandikan Wilbur bahkan menceritakan kisah sebelum tidur untuk Wilbur.
Namun lama kelamaan, Wilbur tumbuh besar, ia tak lagi bisa tinggal serumah dan tidur bersama Fern. Akhirnya Wilbur ditempatkan di sebuah kandang milik paman Fern. Disinilah Wlibur harus menyesuaikan diri dengan kehidupan seekor babi yang seharusnya.
Tentu saja ini sulit awalnya bagi Wilbur. Tapi sejak bertemu Charlotte, sang laba-laba, semuanya jadi berbeda.
Untuk menunjukkan pada dunia bahwa Wilbur adalah babi yang menyenangkan dan tak pantas mati jadi santapan Natal, satu malam Charlotte menuliskan kata "Some Pig" di pintu kandang dengan jaringnya. Setelah itu Wilbur mulai dikenal orang banyak. Ia pun diikutsertakan untuk bersaing dalam sebuah kontes.
Ketika kontes berlangsung Wilbur tak sadar kalau Charlotte saat itu sedang sakit. Ia tengah mengandung dan tak lama lagi harus menetaskan banyak telur. Dalam keadaan sekarat, Charlotte ditemani sang tikus membantu Wilbur memenangkan kontes.
Akting Dakota Fanning seperti biasa pun tak pernah mengecewakan. Secara keseluruhan, 'Charlotte's Web' mampu menuai sukses serupa jika pecintanya tak bosan dengan kisah Charlotte yang berkali-kali di adaptasi dan digarap ulang.
Film ini disutradarai Gary Winick dan diproduseri kembali oleh Paramount Pictures, Walden Media, the Kerner Entertainment Company serta Nickelodeon Movies. Selain Julia Roberts, Oprah Winfrey pun terlibat mengisi suara Gussy si angsa.      | PLAYFUL | Feb 27, '07 4:54 AM for everyone |
 | Category: | Music | | Genre: | Jazz | | Artist: | TOMPI |
Menikmati album ketiga Tompi "Playful" bagai sedang berada dalam taman bermain yang penuh dengan warna-warni. Ada tingkah konyol lewat lirik-liriknya yang memancing gelak tawa. Really playful. Jangan kaget jika lagu anak-anak ”Balonku” ditaruh sebagai pembuka album. Acapella manis dari Tompi dkk membawa nuansa baru. ”Lulu dan Siti” (siapa mereka?) adalah inspirasi nakal Tompi tentang ditinggal kekasih. Lagu konyol tapi aransemen musiknya keren. Tersenyumlah, lagu ini fun banget. Satu lagi lagu konyol adalah ”Jangan Engkau Ganggu Cintaku”. Si bandel Tompi melarang siapapun yang dekat ma gebetannya dengan musik middle up beat nan catchy. ”Salahkah”, lagu yang paling muram di album ini. Kisahnya tentang selingkuh, kemudian tobat dan kembali ke jalan yang lurus. Tipikal mellow dramatic love song banget!!! Sebagai anak yang berbakti kepada orangtua, Tompi mempersembahkan ”Kekagumanku” untuk sang ibunda tercinta. Suara canda kanak-kanak memberi nuansa nostalgia masa kecil terasa hangat dan haru. ”Can You Feel My Music”, sebuah single yang mewakili misi Tompi. Nadanya middle beat up, mewakili sebagian besar lagu dalam album ini. Mengajak para pendengar untuk berdansa, bergoyang, dan rileks. THE LIST : 01. Balonku. 02. Lulu dan Siti. 03. Salahkah. 04. Jangan Engkau Ganggu Cintaku. 05. Can You Feel My Music. 06. Valentine’s Day. 07. Aku Tak Mau. 08. Kekagumanku. 09. I am Falling in Love. 10. Engkaulah Satu-Satunya. 11. Even If. 12. Soft Shoe. 13. T Scat. *Taken from http://kafegaul.com/musik/article.php?id=27981&cat=6
| |